Membenarkan Kesalahan Bersama Dibalik Bencana

Oleh : Takdir Hidayat

BENTENG – Teruntuk yang sempat membaca tulisan ini yang mungkin saja pada saat dalam kondisit tidak paham, gagal paham, sedang paham, dipahami, dan mari kita memahami.

Tak perlu untuk mempersalahkan siapa siapa tak perlu saling mencaci karna jika caci dibalas caci maka siapa yang benar siapa yang salah.

Kita Sebagai yang masih mencintai tanah leluhur yang sejak dulu namanya sudah mulai diperbincangkan dilingkungan kerajaan Majapahit dan juga ikut termaktub dalam salah satu epos terbesar dunia.

Lagaligo yang tebalnya mengalahkan kisah Mahabharata dengan kisah Ramayana, orang di tempatku menyebutnya Tanadoang ( Tanah yang didoakan) dan kebanyakan juga orang menyebutnya sebagai potongan surga di kaki Sulawesi dengan hamparan keindahan bawah laut yang membuat parah penyelam, candu dan memang kita tidak bisa naif akan itu.

Disini Lagi lagi kita tidak perlu mempersalahkan siapa siapa karena dengan keyakinan yang begitu besar merupakan hal yang tidak mungkin untuk dengan sengaja mencederai salah satu anugerah terindah yang telah diberikan sang pencipta.

Tetapi secara tidak sengaja kita sudah melukai dengan luka perih yang tak berdarah dan semoga saja tidak membengkak.

Akhir akhir ini (lautku) banyak muntah mungkin saja karna makanan yang kita berikan berupa ( sampah), dan terkadang juga dengan minuman yang berupa (bius atau sianida) yang kita berikan dengan sengaja atau tidak sengaja sadar atau tidak sadar yang membuatnya marah atau mungkin karena luka yang begitu parah

Tak perlulah saling memaki bukankah kegemaran kita memaki adalah kegagalan kita dalam membenarkan apa yang telah kita abaikan.

Ingat , mengingat ,Mari ingat, mari saling mengingatkan. Mari belajar , diajar, mengajar, saling mengajar dan tanpa proses yang panjang kita sudah langsung pintar untuk membuang Sampah, melempar sampah, mengantar sampah, pada tempatnya bukan kelaut.

Tanah ini butuh pemerhati luka yang tulus